[Al-Islam 496] Pernyataan Presiden SBY pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. 1431 H yang diselenggarakan oleh Majelis Rasulullah di Lapangan Monas Jakarta beberapa waktu lalu menarik untuk kita simak dan renungkan. Pada saat memberikan sambutan, SBY mengatakan bahwa upaya membangun negara penuh dengan ujian dan tantangan. Untuk itu, dia mengajak semua pihak meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad untuk mengatasi persoalan bangsa. Sebelumnya, SBY juga menyatakan sejarah membuktikan bahwa seberat apapun persoalan, tantangan dan ujian itu dapat diatasi dengan izin dan pertolongan Allah SWT (Jawa Pos, 27/2).
Pernyataan seperti itu menjadi penting kita renungkan ketika bangsa ini sedang ditimpa berbagai musibah dan bencana; baik berupa bencana lemahnya mental dan moral segenap warga bangsa; bencana alam berupa banjir, tanah longsor, dan sebagainya; atau bencana lainnya dalam kehidupan sosial-politik seperti kasus Century yang berimbas pada wacana pemakzulan Presiden dan Wakil Presiden.
Dalam suasana Peringatan Maulid Nabi saw. ini layak kita merenungkan kembali keteladanan Rasulullah saw. baik sebagai seorang pribadi paripurna maupun sebagai pemimpin keluarga dan pemimpin negara, sebagaimana yang disampaikan Presiden SBY di atas. Namun, Peringatan Maulid Nabi saw. tidak selayaknya sekadar dijadikan wahana untuk mengumbar retorika berbaju “agama” untuk mendulang empati rakyat kepada pemimpinnya.
Untuk itu, umat sangat perlu memahami hakikat meneladani Nabi saw. dalam segala aspeknya, termasuk dalam hal kepemimpinan politik/negara, dan tidak berhenti hanya pada tataran moral/akhlak belaka. Dengan itu, umat tidak tersihir retorika penguasanya yang mengajak “kebaikan” (pada tuntutan berakhlak mulia), tetapi meruntuhkan sebagian besar kebaikan lainnya (yakni hukum-hukum syariah Islam yang meliputi aspek ekonomi, peradilan, pemerintahan dll). Sekadar mengajak masyarakat untuk mengikuti akhlak Nabi saw. secara pribadi, sembari mengabaikan sebagian besar aspek syariah lainnya yang juga dicontohkan beliau (seperti menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam negara), adalah bentuk pengkerdilan Rasulullah saw., bukan mengagungkan pribadi beliau. Tentu, ini bertolak belakang dengan pesan inti Peringatan Maulid, yakni memuliakan dan mengagungkan (takrîm[an] wa ta’zhîm[an]) Baginda Rasulullah saw. Read the rest of this entry »